Seminar bertajuk “Arsitektur Tangguh Bencana Berbasis Data dan Ilmu Kebumian (Kolaborasi Keilmuan Arsitektur, Geologi, Geospasial dan Perencanaan Wilayah)” digelar pada Jumat, 10 April 2026 di Bagindo Aziz Chan Youth Center, Kota Padang. Kegiatan ini mempertemukan para akademisi, praktisi, serta pemangku kebijakan untuk membahas pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam mewujudkan pembangunan yang tangguh terhadap bencana. Seminar diawali dengan sambutan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Provinsi Sumatera Barat, Ar. Ivo Fridina, M.T., IAI, yang menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat melalui Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi atas kolaborasi dalam penyelenggaraan kegiatan ini.
Selanjutnya, sambutan sekaligus pembukaan resmi disampaikan oleh Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Provinsi Sumatera Barat yang diwakili oleh Kepala Bidang PJPA, Hendri Yulindra, ST, MT. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa Sumatera Barat merupakan wilayah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi, sehingga pembangunan harus berbasis mitigasi bencana. Ia juga menyoroti pentingnya perencanaan wilayah yang mampu menjaga rantai pasok industri serta memastikan kualitas standar bangunan. Selain itu, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi terus mendorong peningkatan kompetensi melalui sertifikasi tenaga ahli yang terlibat dalam proses konstruksi.
Seminar ini menghadirkan empat narasumber, yakni Prof. Dr. Ir. Haryani, M.T.P. (Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia Sumbar/Guru Besar Universitas Bung Hatta), Dian Hadiyansyah, S.T., M.T. (Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Sumatera Barat), Dr. Nofi Yendri Sudiar, S.Si., M.Si. (Ketua APDI Region Sumatera Barat/Kepala Research Center for Climate Change UNP), serta Muhammad Cahyo Novianto (Jaringan Arsip Arsitektur Indonesia/IAI). Dalam paparannya, salah satu narasumber menyoroti fenomena curah hujan ekstrem yang kini semakin meningkat akibat perubahan iklim, di mana intensitas hujan yang biasanya terjadi dalam beberapa bulan dapat turun hanya dalam hitungan hari. Kondisi geografis Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia serta memiliki bentang alam Bukit Barisan turut memperparah potensi bencana, terutama banjir dan longsor.
Lebih lanjut, para narasumber menekankan pentingnya peran arsitektur yang adaptif terhadap kondisi alam. Desain bangunan dan kawasan diharapkan mampu mengakomodasi resapan air, memanfaatkan air hujan, serta menjaga keseimbangan ekosistem melalui pendekatan berbasis alam. Konsep seperti pembangunan ruang terbuka hijau, kolam retensi, roof garden, hingga pemanfaatan kearifan lokal seperti rumah panggung menjadi solusi yang relevan. Selain itu, pemahaman terhadap karakter geologi wilayah, potensi tsunami di pesisir barat, serta risiko likuifaksi juga menjadi perhatian penting. Dengan demikian, arsitek diharapkan tidak hanya berperan sebagai perancang, tetapi juga sebagai problem solver yang mampu menghadirkan solusi inovatif dan berkelanjutan dalam menghadapi risiko bencana di masa depan
Belum Ada Komentar
Jadilah yang pertama memberikan komentar pada berita ini.